

Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
dadaku terasa sesak oleh debu-debu kemusyrikan yg bebas beterbangan
menempel dalam gamis putih para punggawa keadilan
baunya menyengat memenuhi ruang-ruang kehormatan
terhisap masuk ke rongga nafas yg paling dalam
lalu meninggalkan jejak-jejak kenistaan di ujung jubahnya
Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
terngiang dalam telinga kecilku
suara makian yang datang dari opera terhormat dalam gedung rakyat yang mulia
terdengar lantang dari mulut-mulut srigala yang berbusa dan bertopeng domba
gaduh!, layaknya bursa lelang
berteriak meng-agungkan singasana, mengaburkan perut-perut kosong yang terserak dan tersandar di emper-emper ruang sidang yang megah.
Seolah mereka tertakdir sebagai punggawa negara
bebas memaki, menerjang, bahkan membunuh hati nurani lalu membawa hawa nafsu menjadi panglima birahi
Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
kakiku belum sanggup tuk melangkah saat mentari mulai memerah
samar-samar aku mendengar nasehat orang-orang yang merasa mulia
suaranya terdengar berat, mendongeng tentang kebenaran,
tapi yang keluar dari mulut berbusanya adalah kabar kebohongan
mulutnya mengangga lebar, mengeluarkan kotoran-kotoran busuk dari kantong-kantong baju yang dikenakannya
dibiarkannya terserak, terinjak-injak kawanan babi yang mengikutinya
Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
langkah terasa berat menyusuri jalan yang semakin menanjak tinggi
setinggi temperament pria berseragam lengkap dengan emblem kenegaraan yang berorasi dalam sandiwara keadilan
berteriak lantang, membuka lembar-lembar kepalsuan yang disusun rapi bak bait-bait puisi yang memaksa menyentuh ujung nurani
sayang, kelembutan syairnya tersamar dalam bayang-bayang hitam yang berlari-lari mengitari semua kepala-kepala tanpa badan, yang terpisah oleh keabadian
Jalankupun belum berujung, tapi langkahkupun harus terhenti
Nafasku tersedak oleh bau anyir tapak-tapak tikus yang sengaja meninggalkan jejak
Di Lorong-lorong remang yang lebar dan nyata dalam pandang
Tercecer jelas pundi-pundi kerakusan yang tersembunyi dalam hati-hati yang kotor
jatuh dari kantong-kantong seragam keadilan yang senagaja tak terkancingi
Jalanku belum berujung, tapi langkahku benar-benar harus terhenti
Terasa nyata dalam alam maya, terpampang bak lukisan indah karya sang maestro
Tubuh-tubuh kurus yang membungkuk, berbaris teratur berjalan tanpa arah
Tanganya menengadah, mulutnya bergumam, mengikrarkan semua kebohongan yang tertato dalam dadanya
Mengerikan,……
Riuh, dan benar-benar gaduh,
Begitu banyak yang terhempas terbuang dalam kesia-an,
Jalannya tertatih, terbebani dosa-dosa yang meresap dalam tulang-tulang pipihnya
Tapi mereka tetap kembali dengan kecongkak-an,
Menutup semua mata dan telinga kebenaran dengan tameng dusta
pijakannya tercetak dalam jejak-jejak nafas yang bau dengan keangkara मुर्कान
hhhhhhmmmmm
kakiku mulai tertatih untuk melagkah
sedikit tergesa ntuk melihat bayangan kilat yang menyambar
menampakkan sedikit saja keabadian yang menghukumnya
cambuknya menyayat badan dan mengeluarkan darah-darah yang pernah di hisapnya.
Menetes, melumuri seluruh permukaan alam, untuk membayar nazar yang tertunda
semuanya jelas terlihat dalam mata hati ini।
keprihatinan untukmu garudaku
10.04
05-02-10
10.12
24-02-10
22.35
18-01-11
23.30
31-01-11