Saat ufuk mulai bergeliat, aku berbisik pada diriku
kenapa sinarmu tak nampak cerah pagi ini
Hhmm ternyata rona merah jingga itu enggan menyapa
Dia duduk mengangkangi cakralawala biru
Seakan ingin berteriak “hey aku penguasa bumi”
Dalam diam aku bergumam, ah….tanpa dia memang bumi tak terlihat jantan….
Aku tak melihat adanya penolakan atas keperkasaan itu dalam rana semesta
Alam pun menderu membuat suasana hingar menandakan keberpihakannya kepada sang fajar
“Ya, aku tahu itu! “
“Tapi kau tak terlihat gagah pagi ini! “
“Aku tak melihatmu sebagai sebuah mahluk yang jujur, kuat dan pemberani! “
Sekelebat terasa begitu cepat datangnya gending (*1) menerpa punggung leherku,
aku menoleh, menangkap begitu kuat kemarahannya kepadaku
“Kau tak pantas bergumam seperti itu untuk rajaku!”
gerakannya tak terkendali membiaskan aroma kematian, cepat dan tak menyisakan apapun yang bersandar di bumi.
Sekonyong-konyong muncul siklonal (*2), dan mengangkat semua yang rebah
menebar jala kenistaan,
membuat aroma kedukaan semakin nyata
Aku tertunduk, melihat tak ada yang tersisa, semua hilang dari pandangan
Aku tak berucap,
indraku tersekap dalam gamang
“Kenapa kau lakukan ini?”
“Kenapa kau pertaruhkan kami dalam edarmu?”
Rona merah jingga merambat, berangsur memerah
panasnya mulai meresap di permukaan ari
Merasuk dan hidup dalam darah setiap insan
“Para Hawa tak berpihak padaku, pada sungai, pada gunung, dan pada alam yang ada dalam jagat ini”. Warnanya semakin terang, mengaburkan horizon biru dalam pandanganku.
“Para Adam menentangku, membuat sungai tak lagi berair, membuat gunung tak lagi tinggi, membuat angin tak lagi berbisik. Kalian mengekang dan menyumbat semua garis dalam keteraturanku, aku berpaling dari bumimu”
Pergeseran derajat mulai tinggi, bayang-bayangpun tepat dibawah badanku. Aku bersumpah pada penguasa alam
Aku tak ingin menunggu dalam kesia-an waktu, meneropong masa depan dalam gelap.
Kucoba buka lipatan waktu yang tersisa dalam edarmu, masih adakah waktu yang tertinggal yang dapat aku kejar.
Sinarmu yang memandikan, membuat buih kehidupan akan terbangun.
“Jangan kau lakukan itu!”
Teriakku lantang, menantang sang mentari
“Tidakkah kau berharap pada benih yang tumbuh dalam sinarmu, tidakkah kau rindu akan hadirnya gemercik dalam senjamu, tidakkah kau gembira melihat jiwa-jiwa yang gamang menyongsong fajarmu!”
“Kau tidak sebesar yang kau bayangkan!”
kepalku tergenggam keras meninju kepongahan yang dia tawarkan.
Aku tak ingin tergilas cuaca yang tak bersahabat
Lawan! Batinku bergerak menangkap buaian angin yang bergerak lemah.
Perlahan bayang-bayang mulai membelakangiku
desiran angin yang berlarian menghempaskan kepongahan sore itu
aku gembira, horizonku kembali tanpak cerah
merah yang menyala mulai luntur
perlahan, terkabur dalam jingga senja
“Kau tak berhak menghakimi kami. Sempadan kami tak menjangkau roda edarmu, tapi kami kuasa mengejar lintasan dari masa depanmu”
Kesejukan senja mulai merasuk dalam alam sadar sang raja
“Ya, aku mengerti yang aku lakukan, diamku dalam damai, aku tetap beredar, marahku dalam diam, akupun tetap beredar, tapi ketidakharmonisan dalam edarku, adalah laknatmu”. Sekonyong warna merah berteriak tersembul dari sudut horizon.
“Mengertikah kau bila aku berpaling dalam edarku?. Tak ada yang bisa menahan dari semua yang kan terjadi.”
Aku tertunduk dalam galau, terselimuti luka yang mengangga, berharap datangnya penolong jiwa.
Tanganku menengadah berharap doaku sampai ke lapisan langit terluar.
Dimana jiwa-jiwa yang tenang sedang berdamai dengan dosa-dosanya, disana pula jiwa-jiwa yang resah bersemayam menunggu pahala-pahala menolongnya.
“Tapi kau tak bisa menentukan kapan itu terjadi.”
“Kau bukan perkasa yang siap menjulang di kepala kami, lalu kau biaskan semua sinar kemarahanmu pada kami.”
“Sadarlah, kau hanyalah mahluk yang tidak lebih besar dari kuasaNya untuk menjadi raja kecil dalam edarmu.” Aku mencoba mengecilkan perasaan besarnya.
“Jadi kau bukan siapa-siapa!”
“Karena kau tak bisa berpaling dari titahNya, edarmu mutlak dalam sabdaNya.”
Buaian biru dalam horison kembali meninggi, rona merah jingga melemah, berpaling kembali ke haribaanya diiringi kapas-kapas putih penghias taman cakrawala.
Sang mentari mulai meredup, keperkasaannya tersamar dalam sapuan masa.
Hening……, tak ada bualan besar yang terdengar,……..
Bbbrrrrrdaaaaarrrrr!!!!!!!
Suara keras dibarengi dengan kilauan cahaya berujung tajam datang begitu cepat, sekejap memerahkan langit kemudian menghilang dalam cakrawala,…..
“Aku pendukung setia rajaku!. Jangan kau lemahkan kuasanya dengan kebohongan dan kerakusanmu!.”
Sesekali dia perlihat kilauan cahaya — kadang bercabang, kadang hanya terlihat satu benang putih — yang menancap di horizon.
Hhmmm….
Dukungan masih berpihak padanya.
“Aku ingin membuat malammu terbakar dengan merah panasku, aku ingin membuat malammu menjadi siangku.”
“Aku ingin melihat hijaumu menjadi layu, aku ingin melihat beningmu menjelma menjadi satu kedukaan yang bisa kau rasakan selama waktuku masih berlaku.” Sekonyong-konyong biasan merah menyala menyela dengan cepat diantara kapas-kapas putih.
Horizonku tercemar!
Aku tak kuasa merasakan ini, “Ya kau memang perkasa, jangan buat kami lebih menderita.”
“Jauhkan merahmu dari kami, jauhkan panasmu dari kepenatan yang memang sudah ada tanpa hadirmu, jauhkan,……..jauhhhkkaannnn
Ingatanku tersambar dalam buaian liar sinar-sinar merahnya, tak ada lagi kesadaran yang membuat aku dapat membuka hatinya yang sedang terbakar. Aku terkapar, jatuh dalam pelukan-pelukan lumpur yang begitu kotor, dikelilingi bau darah yang mengental, keras….., dan tak mengenali apapun yang datang ke sanubari.
Terbujur lurus menghadap kiblatMu,
aroma khas tercium begitu kuat saat ujung hidungku menyentuh dinding-dingding tanah
Aku berharap lembayung segera muncul, menjawab doa-doaku yang tertunda…….
Biarkan sang perkasa yang menghukum, demi damai, demi ketenangan dan demi keteraturannya yang dia inginkan.
Dialog imajiner dengan sang mentari
17.04.09
10.45
13.01
16.48
20-04-09
10.04
12.10
Jakrata
20-04-09
12.47
(*1) angin gending : angin kencang tipe fohn yg berembus pd musim kemarau dan sifatnya panas serta kering, dapat merusak tanaman terdapat di daerah Pasuruan, Jawa Timur; --
(*2) Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.
2 komentar:
Mauuu dong Um di bikinin puisi, ntar tak taro di blogku deh.. :D
daleem banget...
Posting Komentar