sepertinya aku lagi jatuh cinta deh
Menciptakan rona-rona emas yang tumbuh dalam kedekatan malam
Berdetak cepat, melampaui nalar yang sedang lengah
Indahmu bukan khayal, dekat dalam denyut nadi,
Merasuk cepat meracuni semua otak yang tak sempat lagi berfikir jernih
menyumbat katub pulmoner (1) sejenak, lalu melepasnya dengan kegairahan
senyum-mu , melenakan dalam duka
sembunyikan lara dalam lipatan-lipatan paling dalam lesung pipitmu
menariknya, lalu pantulkan riang dalam rana batinku
dekapmu mejadi terapi, terasa hangat di lapisan ari
bagaikan embun yang enggan jatuh menyentuh tanah,
tak ingin lepas dari dekapmu – tak sedepapun
Cintamu memyumbat mata, butakan semua yang terlihat
Biaskan mimpi-mimpi dalam cakrawala biru
Menafikan semua kiasan, cerminkan dalam nyata
Detik pun enggan berdetak, sekejap menoleh saja tak kuasa
Terkenang binar-binar mata yang terpancar tajam
Menjaga hati tuk tak berpaling darimu
Berlabuh, siap melipat layar tuk merapat dalam ruang hati yang nyaman
Mengucap ikrar, menggapai semua keinginan tuk terus bersamaa
Semuanya - untukmu dan untuk kita
23.55
07.02.11
23.38
12.02.11
21.38
13.02.11
22.15
15.02.11
(1) Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida selanjutnya dialirkan.
Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner.
codot-codot penghisap darah


Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
dadaku terasa sesak oleh debu-debu kemusyrikan yg bebas beterbangan
menempel dalam gamis putih para punggawa keadilan
baunya menyengat memenuhi ruang-ruang kehormatan
terhisap masuk ke rongga nafas yg paling dalam
lalu meninggalkan jejak-jejak kenistaan di ujung jubahnya
Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
terngiang dalam telinga kecilku
suara makian yang datang dari opera terhormat dalam gedung rakyat yang mulia
terdengar lantang dari mulut-mulut srigala yang berbusa dan bertopeng domba
gaduh!, layaknya bursa lelang
berteriak meng-agungkan singasana, mengaburkan perut-perut kosong yang terserak dan tersandar di emper-emper ruang sidang yang megah.
Seolah mereka tertakdir sebagai punggawa negara
bebas memaki, menerjang, bahkan membunuh hati nurani lalu membawa hawa nafsu menjadi panglima birahi
Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
kakiku belum sanggup tuk melangkah saat mentari mulai memerah
samar-samar aku mendengar nasehat orang-orang yang merasa mulia
suaranya terdengar berat, mendongeng tentang kebenaran,
tapi yang keluar dari mulut berbusanya adalah kabar kebohongan
mulutnya mengangga lebar, mengeluarkan kotoran-kotoran busuk dari kantong-kantong baju yang dikenakannya
dibiarkannya terserak, terinjak-injak kawanan babi yang mengikutinya
Jalanku belum berujung, tapi langkahku harus terhenti
langkah terasa berat menyusuri jalan yang semakin menanjak tinggi
setinggi temperament pria berseragam lengkap dengan emblem kenegaraan yang berorasi dalam sandiwara keadilan
berteriak lantang, membuka lembar-lembar kepalsuan yang disusun rapi bak bait-bait puisi yang memaksa menyentuh ujung nurani
sayang, kelembutan syairnya tersamar dalam bayang-bayang hitam yang berlari-lari mengitari semua kepala-kepala tanpa badan, yang terpisah oleh keabadian
Jalankupun belum berujung, tapi langkahkupun harus terhenti
Nafasku tersedak oleh bau anyir tapak-tapak tikus yang sengaja meninggalkan jejak
Di Lorong-lorong remang yang lebar dan nyata dalam pandang
Tercecer jelas pundi-pundi kerakusan yang tersembunyi dalam hati-hati yang kotor
jatuh dari kantong-kantong seragam keadilan yang senagaja tak terkancingi
Jalanku belum berujung, tapi langkahku benar-benar harus terhenti
Terasa nyata dalam alam maya, terpampang bak lukisan indah karya sang maestro
Tubuh-tubuh kurus yang membungkuk, berbaris teratur berjalan tanpa arah
Tanganya menengadah, mulutnya bergumam, mengikrarkan semua kebohongan yang tertato dalam dadanya
Mengerikan,……
Riuh, dan benar-benar gaduh,
Begitu banyak yang terhempas terbuang dalam kesia-an,
Jalannya tertatih, terbebani dosa-dosa yang meresap dalam tulang-tulang pipihnya
Tapi mereka tetap kembali dengan kecongkak-an,
Menutup semua mata dan telinga kebenaran dengan tameng dusta
pijakannya tercetak dalam jejak-jejak nafas yang bau dengan keangkara मुर्कान
hhhhhhmmmmm
kakiku mulai tertatih untuk melagkah
sedikit tergesa ntuk melihat bayangan kilat yang menyambar
menampakkan sedikit saja keabadian yang menghukumnya
cambuknya menyayat badan dan mengeluarkan darah-darah yang pernah di hisapnya.
Menetes, melumuri seluruh permukaan alam, untuk membayar nazar yang tertunda
semuanya jelas terlihat dalam mata hati ini।
keprihatinan untukmu garudaku
10.04
05-02-10
10.12
24-02-10
22.35
18-01-11
23.30
31-01-11
सी Mbah
Usiamu tak lagi muda saat keriangan mendampingimu
Hingar bingar kefana-an mulai mencemari pencarian jatidirimu
Mbah,…
Usiamu tak lagi muda saat tembang-tembang lawasmu
fasih dinyanyikan bocah-bocah bertelanjang dada di pinggiran gang sempit.
Mbah,…
Usiamu tak lagi muda saat kesibukan mulai menghantui jalan hidupmu
Padahal kepalsuan duniawi telah kau rasakan sebelumnya
Mbah,…
Usiamu tak lagi muda saat ojek-ojek tua itu mengantarmu
Tak jujurkah mereka pada tubuh rentamu
Mbah,…
Usiamu tak lagi muda untuk menikmati hasil kerja kerasmu
Semua hanya demi kesenangan fatamorgana
Mbah,…
Tubuh tua rentamu melukai raga kami
Malu, karena tak dapat berbuat lebih besar darimu
Mbah,…
Tubuh tua rentamu memecut usia muda kami
Untuk bisa seperti mu
Berjalan diatas bara api penuh dengan keyakinan
Mbah,…
Tubuh rentamu membakar dada kami
Membuat kami harus berkarya lebih besar dari ucapanmu yang sedehana
Mbah,…
Tubuh tua rentamu mengetuk hati kami
Untuk belajar mengerti आरती dari sebuah kesederhaan
Gelapku dalam peradabanmu
Gelapmu dalam malam adalah keindahan
Gelapku dalam malam adalah kecemasan
Datang dalam diam lalu memuntahkan kegundahan
Gelapmu dalam malam adalah karunia
Gelapku dalam malam adalah petaka
Berpacu cepat, melekat dalam keringat-keringat birahi
Gelapmu dalam malam adalah kesunyian
Gelapku dalam malam adalah keriuhan
Tergagap begitu cepat lalu terjaga dalam kehati-hatian
Gelapmu dalam malam adalah kedamaian
Gelapku dalam malam adalah kecemasan
Begitu dingin menyelimuti hati, menimbulkan ghibah* tak bernyali
Gelapmu dalam malam adalah kenikmatan
Gelapku dalam malam adalah kekacauan
Begitu panas, memancarkan kebencian, menimbulkan luka dalam dendam
HITAM!
Pekat dalam kalbu
menyelimuti keangkuhan yang begitu keras lalu mengepal dalam dada
Pancarkan kekuatan semu, melemahkan nalar-nalar kebaikan
Di peradaban lain
Gelap adalah keindahan,
karunia,
juga kedamaian yang menimbulkan kenikmatan
untuk disyukuri
kontradiksi
pantulan cermin gelap malam-mu
dalam dunia “nyata”
adalah hedonisme
Ya Rabb
Padamu penguasa kesunyian
Tuntun kami dalam gelapmu
Tatih kami susuri pahala-pahala malammu
Lantunkan kami
nyanyian merdu serangga malam
Yang melafazkan asma-asma agungmu
Ya Rabb
Padamu penguasa Keabadian
Cerminkan kami pada kehidupan kekalmu
Tempat dimana kolam-kolam susu mengalir
Tempat dimana Engkau menyinari semua ruang dalam gelap
untuk saudara-saudaraku
di Cibeo – Baduy Dalam
Ghibah = gosip
he·do·nis·me /hédonisme/ n pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup
30-07-09
10.10
14.39
31-07-09
09.38
Cintaku di ujung gelombang
Mengganggu…………….
Itu yang kusadarai
Saat kudengar suara lirih dari bilik seni
Gemulai langgam bermain diatas tala, coba mencari diri
Nada lirih tersamar berganti menjadi lenggang
Tak sadar hati inipun mulai berkembang
Mengganggu…………..
Itu yang kusadari
Saat nara indah bertaut dengan sepancar tala
Nada demi nada berpora sepenuh jiwa
Relung sukmapun terselami, sedihpun berganti
asapun terbentang luas, menari menghibur hati
Mengganggu…………
Itu yang kusadari
Saat nada indah bergemuruh di hati
Tak kuat rasanya tuk menahan emosi
Kakipun melangkah berjalan mengikuti langgam
Dekat dan rapat, seerat corong suara yang kami genggam
Mengganggu……………..
Itu yang kusadari
Saat semua rekan berbincang tentang keindahan
Lama kuputuskan untuk tidak diam, agar semua tak tertahan
Lepas sudah semua beban, lega dan lapang
Selapang langgam bernada panjang
Mengganggu……………..
Itu yang kusadari
Saat kutelusulri jalan pendek agar ijab cepat terucap
Riang dan bahagia walau hati sulit mengucap
Tak kuasa lisanpun berdecak, ini bukan yang pertama kali
Semoga asa yang pernah hilang sekarang akan kembali
Bila engkau berpaling
Saat ufuk mulai bergeliat, aku berbisik pada diriku
kenapa sinarmu tak nampak cerah pagi ini
Hhmm ternyata rona merah jingga itu enggan menyapa
Dia duduk mengangkangi cakralawala biru
Seakan ingin berteriak “hey aku penguasa bumi”
Dalam diam aku bergumam, ah….tanpa dia memang bumi tak terlihat jantan….
Aku tak melihat adanya penolakan atas keperkasaan itu dalam rana semesta
Alam pun menderu membuat suasana hingar menandakan keberpihakannya kepada sang fajar
“Ya, aku tahu itu! “
“Tapi kau tak terlihat gagah pagi ini! “
“Aku tak melihatmu sebagai sebuah mahluk yang jujur, kuat dan pemberani! “
Sekelebat terasa begitu cepat datangnya gending (*1) menerpa punggung leherku,
aku menoleh, menangkap begitu kuat kemarahannya kepadaku
“Kau tak pantas bergumam seperti itu untuk rajaku!”
gerakannya tak terkendali membiaskan aroma kematian, cepat dan tak menyisakan apapun yang bersandar di bumi.
Sekonyong-konyong muncul siklonal (*2), dan mengangkat semua yang rebah
menebar jala kenistaan,
membuat aroma kedukaan semakin nyata
Aku tertunduk, melihat tak ada yang tersisa, semua hilang dari pandangan
Aku tak berucap,
indraku tersekap dalam gamang
“Kenapa kau lakukan ini?”
“Kenapa kau pertaruhkan kami dalam edarmu?”
Rona merah jingga merambat, berangsur memerah
panasnya mulai meresap di permukaan ari
Merasuk dan hidup dalam darah setiap insan
“Para Hawa tak berpihak padaku, pada sungai, pada gunung, dan pada alam yang ada dalam jagat ini”. Warnanya semakin terang, mengaburkan horizon biru dalam pandanganku.
“Para Adam menentangku, membuat sungai tak lagi berair, membuat gunung tak lagi tinggi, membuat angin tak lagi berbisik. Kalian mengekang dan menyumbat semua garis dalam keteraturanku, aku berpaling dari bumimu”
Pergeseran derajat mulai tinggi, bayang-bayangpun tepat dibawah badanku. Aku bersumpah pada penguasa alam
Aku tak ingin menunggu dalam kesia-an waktu, meneropong masa depan dalam gelap.
Kucoba buka lipatan waktu yang tersisa dalam edarmu, masih adakah waktu yang tertinggal yang dapat aku kejar.
Sinarmu yang memandikan, membuat buih kehidupan akan terbangun.
“Jangan kau lakukan itu!”
Teriakku lantang, menantang sang mentari
“Tidakkah kau berharap pada benih yang tumbuh dalam sinarmu, tidakkah kau rindu akan hadirnya gemercik dalam senjamu, tidakkah kau gembira melihat jiwa-jiwa yang gamang menyongsong fajarmu!”
“Kau tidak sebesar yang kau bayangkan!”
kepalku tergenggam keras meninju kepongahan yang dia tawarkan.
Aku tak ingin tergilas cuaca yang tak bersahabat
Lawan! Batinku bergerak menangkap buaian angin yang bergerak lemah.
Perlahan bayang-bayang mulai membelakangiku
desiran angin yang berlarian menghempaskan kepongahan sore itu
aku gembira, horizonku kembali tanpak cerah
merah yang menyala mulai luntur
perlahan, terkabur dalam jingga senja
“Kau tak berhak menghakimi kami. Sempadan kami tak menjangkau roda edarmu, tapi kami kuasa mengejar lintasan dari masa depanmu”
Kesejukan senja mulai merasuk dalam alam sadar sang raja
“Ya, aku mengerti yang aku lakukan, diamku dalam damai, aku tetap beredar, marahku dalam diam, akupun tetap beredar, tapi ketidakharmonisan dalam edarku, adalah laknatmu”. Sekonyong warna merah berteriak tersembul dari sudut horizon.
“Mengertikah kau bila aku berpaling dalam edarku?. Tak ada yang bisa menahan dari semua yang kan terjadi.”
Aku tertunduk dalam galau, terselimuti luka yang mengangga, berharap datangnya penolong jiwa.
Tanganku menengadah berharap doaku sampai ke lapisan langit terluar.
Dimana jiwa-jiwa yang tenang sedang berdamai dengan dosa-dosanya, disana pula jiwa-jiwa yang resah bersemayam menunggu pahala-pahala menolongnya.
“Tapi kau tak bisa menentukan kapan itu terjadi.”
“Kau bukan perkasa yang siap menjulang di kepala kami, lalu kau biaskan semua sinar kemarahanmu pada kami.”
“Sadarlah, kau hanyalah mahluk yang tidak lebih besar dari kuasaNya untuk menjadi raja kecil dalam edarmu.” Aku mencoba mengecilkan perasaan besarnya.
“Jadi kau bukan siapa-siapa!”
“Karena kau tak bisa berpaling dari titahNya, edarmu mutlak dalam sabdaNya.”
Buaian biru dalam horison kembali meninggi, rona merah jingga melemah, berpaling kembali ke haribaanya diiringi kapas-kapas putih penghias taman cakrawala.
Sang mentari mulai meredup, keperkasaannya tersamar dalam sapuan masa.
Hening……, tak ada bualan besar yang terdengar,……..
Bbbrrrrrdaaaaarrrrr!!!!!!!
Suara keras dibarengi dengan kilauan cahaya berujung tajam datang begitu cepat, sekejap memerahkan langit kemudian menghilang dalam cakrawala,…..
“Aku pendukung setia rajaku!. Jangan kau lemahkan kuasanya dengan kebohongan dan kerakusanmu!.”
Sesekali dia perlihat kilauan cahaya — kadang bercabang, kadang hanya terlihat satu benang putih — yang menancap di horizon.
Hhmmm….
Dukungan masih berpihak padanya.
“Aku ingin membuat malammu terbakar dengan merah panasku, aku ingin membuat malammu menjadi siangku.”
“Aku ingin melihat hijaumu menjadi layu, aku ingin melihat beningmu menjelma menjadi satu kedukaan yang bisa kau rasakan selama waktuku masih berlaku.” Sekonyong-konyong biasan merah menyala menyela dengan cepat diantara kapas-kapas putih.
Horizonku tercemar!
Aku tak kuasa merasakan ini, “Ya kau memang perkasa, jangan buat kami lebih menderita.”
“Jauhkan merahmu dari kami, jauhkan panasmu dari kepenatan yang memang sudah ada tanpa hadirmu, jauhkan,……..jauhhhkkaannnn
Ingatanku tersambar dalam buaian liar sinar-sinar merahnya, tak ada lagi kesadaran yang membuat aku dapat membuka hatinya yang sedang terbakar. Aku terkapar, jatuh dalam pelukan-pelukan lumpur yang begitu kotor, dikelilingi bau darah yang mengental, keras….., dan tak mengenali apapun yang datang ke sanubari.
Terbujur lurus menghadap kiblatMu,
aroma khas tercium begitu kuat saat ujung hidungku menyentuh dinding-dingding tanah
Aku berharap lembayung segera muncul, menjawab doa-doaku yang tertunda…….
Biarkan sang perkasa yang menghukum, demi damai, demi ketenangan dan demi keteraturannya yang dia inginkan.
Dialog imajiner dengan sang mentari
17.04.09
10.45
13.01
16.48
20-04-09
10.04
12.10
Jakrata
20-04-09
12.47
(*1) angin gending : angin kencang tipe fohn yg berembus pd musim kemarau dan sifatnya panas serta kering, dapat merusak tanaman terdapat di daerah Pasuruan, Jawa Timur; --
(*2) Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.